Senin, Mei 05, 2008

tumpah!

1:38 AM waktu kacy *fyi, kacy is my notebook’s name*

insomnia? Ah bukan, aku bukan pengidap penyakit menjemukan itu! Ini hanya sindrom kebanyakan tidur di hari libur saja. Syukur alhamdulillah aku bisa menepati jam tidur normalku, 12 jam! Haha.

Sudah mulai mencoba tidur sejak 1,5 jam yang lalu. Tapi entah kenapa tetap saja tak bisa terlelap dan segera pergi ke dunia mimpiindah itu. Podky menemaniku *fyi again, podky is my iPod’s name. I know, im not creative* membuatku semakin tak bisa tidur, mengenang setiap kenangan yang ada di setiap lagunya.

Awalnya, selalu memutar lagu dari si cinta terlarang. Tapi kalau hanya lagu- lagu itu saja yang aku mainkan terus, apa guna ratusan lagu yang lain?! Baiklah, aku pun beralih ke track yang lain. Pilihan pertama ada di closer. You know, aku sedang tidak baik- baik saja bersama si pacar. Entahlah, mungkin hanya pihakku saja yang merasa begini dan dia merasa baik- baik saja. Persetan. Ya, persetan tapi aku menginginkannya di sini, malam ini. karena itu aku memutar lagu itu, yang selalu mengingatkanku akan jarak antara kita. Meskipun ada sedikit rasa sesal akan ketidakdekatan ini, tapi tak apalah. *anw. Bahasaku kok agak aneh ya, nggak enak banget bacanya~ T_T” *

Track kedua, yang bikin aku kangen sama bagian hidupku yang lain, yang paling aku sukai untuk kuingat, hidupku di SMP. Comforting sound-nya MEW. Jadi kangen ega, temen sebangku SMP kelas 3 yang nggak ada matinya. Inget lagi masa SMP dulu itu, 3 tahun yang nggak mungkin aku lupain dan memang tak pantas untuk aku lupain.



SMP… yah, jadi malah inget si cinta terlarang kan?! Tak apalah, dia memang pernah mengeluh, katanya, kenapa namanya hanya aku tulis sekali begitu saja di blogku sebelumnya!? Haha.

*Sigh* menceritakanmu itu memang akan selalu dimulai dengan hembusan nafas yang menyesali dan mengagumi segalanya yang pernah ada dan akan selalu ada di antara kita. Entahlah, pertemuan pertama itu yang mungkin tidak pernah kamu ingat sebelumnya, karena yah memang jujur saja, akulah yang pertama kali mengagumimu. ;) sayangnya, aku tak mengingat bagaimana kita berkenalan. Aku hanya ingat masa- masa kita pernah bersama. Sebelumnya, aku tidak begitu mengingatnya. Hanya sedikit yang aku ingat, salah satunya adalah kau pernah membantuku mendekatinya. Mendekati dia yang kau benci hingga sekarang karena telah merusak segalanya. Maaf sayang, tak hanya dia kan sesungguhnya yang merusaknya? Aku pun menghancurkan segalanya, tapi aku juga sekarang jadi membencinya setelah aku tahu semuanya. Aku tahu semuanya dan akupun menyesalinya. Hingga saat ini.

kelas 3 SMP, masa terakhirku di sana. Maafkan jika aku memang pernah menyakitimu sedari dulu, sedari kita di masa lalu itu. Mungkin ada kesalahanku yang belum kamu ketahui dan tak akan pernah kamu tahu. Sudahlah, tak ada untungnya mengingat sesuatu yang hanya akan membuat kita menangis (lagi untuk kesekian kalinya).

Bagaimana masa lalu itu kita lalui bersama, tak pernah terhapus dari ingatanku. Tawa hingga tangis, cemburu hingga marah, semuanya bahkan masih kita lewati bersama- sama (kembali) hingga saat ini. entah bagaimana ceritanya aku menemukanmu, mulai menyayangimu dan hingga akhirnya menyadari rasa yang begitu hebat ini. sayangnya, kita sudah tidak sama lagi, sayang. Maaf. Kita sudah tidak sama dengan yang dulu, kita tidak bisa kembali seperti dulu. Jujur, aku berharap dan kau pun tahu ini, aku berharap kata- kataku itu adalah kita belum bisa kembali seperti yang dulu lagi. Aku berdoa masih ada harapan untuk keinginan terbodohku ini. semoga saja, Tuhan…

3 tahun yang aku lewati dengan pasang surut, sepertinya kau hadapi dengan rasa yang tidak jauh berbeda di tiap tahunnya. Maafkan aku yang tidak bisa bertanggung jawab lebih banyak lagi untuk sakitmu selama 3 tahun kemarin itu. Kau sudah mengetahuinya sekarang apa alasanku bersikap begitu padamu. Aku takut padamu karenanya. Aku tidak mau bertemu denganmu karenanya. Bertemu denganmu, melihatmu sebentar saja hanya akan membuatku mengingat hal yang akan terus membekas ini. tapi, aku pun juga tak tahu, bagaimana bisa aku kembali memberanikan diri menjawab SMSmu, menerima ajakan berbicara denganmu, meskipun memang aku mulai dengan rasa takut dan sikap yang dingin. Kembali sayang, maafkan aku sekali lagi. Saat itu memang aku belum menyadari semuanya dengan jujur. Tapi aku akui, ya, rasa itu ternyata tetap ada.

Terima kasih untuk segalanya.
Maaf, aku bertanya, apakah kamu mau mengabulkan permohonan terbodohku itu?